Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sapardi Djoko Damono

[Profil Penyair] Kisah Hidup Chairil Anwar, Penulis Puisi Aku Ini Binatang Jalang

[ Profil Penyair] Kisah Hidup Chairil Anwar, Penulis Puisi Aku Ini Binatang Jalang CHAIRIL ANWAR KITA Oleh: Sapardi Djoko Damono "Aku mau hidup seribu tahun lagi", tulis Chairil Anwar dalam sajak "Aku" atau "Semangat" pada tahun 1943, ketika ia berumur 20 tahun. Enam tahun kemudian ia meninggal dunia, dimakamkan di Karet, yang disebutnya sebagai "daerahku y.a.d." dalam "Yang Terampas dan Yang Putus" -sajak yang ditulisnya beberapa waktu menjelang kematiannya pada tahun 1949. Sejak itu, sajak-sajaknya hidup di tengah-tengah kita. Beberapa larik puisinya telah menjelma semacam pepatah atau kata-kata mutiara: "hidup hanya menunda kekalahan", Sekali berarti sudah itu mati", "Kami cuma tulang-tulang berserakan", dan terutama larik yang dikutip di awal tulisan ini.  Secara lisan maupun tertulis, larik-larik tersebut kadang-kadang dikutip terlepas dari makna-utuh masing masing sajak; kenyataan ini tentu tidak membuktik...

5 Puisi Favorit dalam Buku Puisi "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi Djoko Damono

Gambar
  Manuskrip puisi "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi Djoko Damono SEHABIS MENGANTAR JENAZAH Karya Sapardi Djoko Damono masih adakah yang akan kautanyakan tentang hal itu? hujan pun sudah selesai sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya bercakap di bawah bunga-bunga menua, matahari yang senja pulanglah dengan payung di tangan, tertutup anak-anak kembali bermain di jalanan basah seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya masih adakah? alangkah angkuhnya langit alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita seluruhnya, seluruhnya kecuali kenangan pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba 1967 ❤❤❤ DALAM DOAKU  Karya Sapardi Djoko Damono dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang bersalaman t ak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk ce...